Hujan, Kopi, dan Percakapan dengan Diri Sendiri

Hujan, Kopi, dan Percakapan dengan Diri Sendiri


Sore itu hujan datang begitu saja, tanpa peringatan. Langit yang tadinya biru cerah berubah mendung dalam hitungan menit. Aku masih duduk di meja kecil dekat jendela, menatap jalanan yang mulai basah. Daun-daun bergerak pelan, seolah ikut menunduk pada derasnya hujan yang turun.


Aku beranjak ke dapur, menyalakan kompor, lalu merebus air untuk kopi. Aroma bubuk kopi yang baru dituang memenuhi udara, wangi yang hangat dan akrab. Sementara itu, suara hujan semakin keras, memukul atap seng rumah tetangga seperti irama drum yang tidak pernah berhenti.


Ketika cangkir sudah penuh, aku kembali ke kursi dekat jendela. Satu seruput pertama terasa seperti pelukan kecil—hangat, sederhana, tapi menenangkan. Dari balik kaca, kulihat beberapa orang berlari, mencari tempat berteduh. Ada yang mengangkat tasnya untuk menutupi kepala, ada pula yang hanya pasrah basah kuyup. Lucu rasanya, bagaimana hujan selalu berhasil menciptakan cerita kecil di setiap sudut jalan.


Aku tersenyum sendiri. Ada sesuatu tentang hujan yang membuatku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri. Seperti ada ruang hening di antara derasnya suara air, ruang di mana aku bisa berbicara dengan hati sendiri.


"Apa kabar?" tanyaku pelan, entah kepada siapa. Mungkin kepada diriku yang kadang terlalu sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa sekadar menikmati.


Jawabannya datang bukan dalam kata-kata, tapi dalam perasaan: tenang. Bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak, tidak apa-apa menyeruput kopi sambil menatap hujan. Dunia memang terus bergerak, tapi aku punya hak untuk melambat, meski hanya sebentar.


Hujan akhirnya reda, meninggalkan aroma tanah basah yang khas. Jalanan kembali ramai, orang-orang melanjutkan langkahnya. Aku menaruh cangkir kosong ke meja, masih hangat di telapak tangan. Dan aku sadar—sore ini mungkin sederhana, tapi justru karena kesederhanaan itu, aku merasa lebih hidup.


---

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Seni Memaafkan Diri Sendiri dan Orang Lain: Jalan Menuju Ketenangan Batin

Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital: Tantangan dan Solusi Nyata